Bengkulu, Sentralnews.com – Lima tahun setelah merger Pelindo, pembenahan pengelolaan terminal petikemas mulai menunjukkan hasil. Standardisasi proses bisnis dan sistem operasi telah dilakukan secara terpusat. Namun, pekerjaan rumah masih tersisa: memastikan biaya industri tetap kompetitif dan kualitas layanan antarterminal semakin seragam.
Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Carmelita Hartoto, mengatakan efisiensi tidak dapat hanya dibebankan kepada pelaku usaha. Menurut dia, pemerintah juga perlu menjaga struktur biaya industri agar tetap kompetitif.
“Efisiensi dari sisi pengusaha saja tidak cukup. Pemerintah juga perlu membantu menjaga agar struktur biaya industri tetap kompetitif,” kata Carmelita.
Menurut dia, kondisi struktur biaya turut mempengaruhi keputusan bisnis, termasuk perencanaan investasi perusahaan. Jika biaya logistik tetap tinggi, ruang bagi pelaku usaha untuk melakukan ekspansi dan investasi menjadi terbatas.
Layanan Belum Sepenuhnya Seragam
Di sisi lain, merger Pelindo dinilai telah mendorong perubahan dalam tata kelola terminal petikemas. Pengamat supply chain dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Raja Oloan Saut Gurning, mengatakan integrasi tersebut membuat pengelolaan terminal lebih terpusat.
Penyelarasan terlihat pada proses bisnis, penggunaan Terminal Operating System (TOS), hingga penerapan indikator kinerja terminal.
“Standardisasi layanan petikemas Indonesia lima tahun terakhir berada pada jalur yang tepat. Arsitektur proses bisnis, sistem operasi atau TOS, dan indikator kinerja telah terstandarisasi secara terpusat,” ujar Saut.
Namun, standardisasi sistem belum otomatis membuat kualitas layanan di seluruh terminal menjadi sama. Menurut Saut, konsistensi layanan di lapangan masih berbeda antara satu terminal dan terminal lainnya.
“Namun, konsistensi layanan riil antarterminal belum sepenuhnya tercapai. Yang terjadi saat ini adalah segmented consistency, konsisten di dalam tier masing-masing, tetapi belum homogen secara nasional,” katanya.
Saut mengatakan perbedaan tersebut tidak lepas dari karakteristik setiap terminal. Kondisi geografis, jenis peralatan, karakteristik kapal, hingga dukungan kawasan hinterland membuat tingkat produktivitas terminal tidak bisa dibandingkan hanya dengan satu ukuran.
Terminal yang berada di wilayah sungai dengan pengaruh pasang-surut, seperti Musi, Barito, atau Kapuas, misalnya, menghadapi keterbatasan tidal window. Kondisi itu dapat mempengaruhi jadwal kedatangan maupun keberangkatan kapal.
“Ini berbeda dengan pelabuhan laut dalam,” ujarnya.
TOS Sama, Produktivitas Bisa Berbeda
Selain faktor geografis, perbedaan spesifikasi peralatan bongkar muat juga menjadi tantangan. Menurut Saut, penggunaan TOS yang sama tidak serta-merta menghasilkan produktivitas yang sama.
Terminal dengan ship-to-shore crane (STS) berkecepatan tinggi tentu memiliki kemampuan berbeda dibanding terminal yang masih mengandalkan harbour mobile crane (HMC) berusia tua atau derek kapal.
“TOS yang sama jika dijalankan di terminal dengan STS berkecepatan tinggi akan menghasilkan output berbeda dibanding terminal yang hanya mengandalkan HMC tua atau derek kapal,” katanya.
Karena itu, standardisasi sistem perlu berjalan beriringan dengan peningkatan ketersediaan dan keandalan peralatan. Saut menilai aspek equipment availability dan mean time between failures masih menjadi tantangan, terutama di sejumlah terminal di luar Jawa.
“Tingkat kesiapan alat atau equipment availability dan mean time between failures di terminal luar Jawa masih belum merata,” ujar Saut.
Dengan demikian, tantangan Pelindo setelah lima tahun merger bukan lagi semata-mata menyatukan sistem. Tahap berikutnya adalah memastikan standardisasi tersebut benar-benar terasa dalam kualitas layanan, sekaligus mendorong efisiensi biaya logistik dan memperkuat daya saing industri secara nasional.












