SENTRALNEWS.COM, LEBONG – Dugaan perbuatan tidak senonoh terhadap seorang siswi salah satu sekolah yang sedang menjalani magang di salah satu dinas di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, menjadi perhatian masyarakat.
Peristiwa yang disebut terjadi pada Kamis (27/8/2026) sekitar pukul 15.00 WIB tersebut, berdasarkan keterangan korban, bermula ketika dirinya dipanggil oleh oknum Kepala Dinas (Kadis) untuk datang ke ruang kerjanya.
Namun, hingga korban memenuhi panggilan tersebut, belum diketahui secara pasti maksud dan tujuan pemanggilan tersebut.
Saat korban berada di dalam ruangan, korban menyebut dirinya hanya berdua dengan oknum Kadis tersebut. Pintu ruangan dalam keadaan tertutup, meski menurut korban tidak terkunci atau tidak tertutup rapat.
Di dalam ruangan tersebut, korban mengaku mendapatkan perlakuan yang dinilai tidak pantas dan tidak senonoh.
Sebelum dugaan kejadian tersebut berlangsung, korban menceritakan bahwa sehari sebelumnya oknum Kadis sempat menanyakan apakah dirinya sudah memiliki pacar atau belum.
Korban juga menyebut oknum Kadis sempat mengingatkan agar dirinya tidak berpacaran terlebih dahulu, sembari mengatakan bahwa korban memiliki paras yang cantik.
Kemudian, tepat pada hari kejadian, korban yang saat itu sedang duduk bersama tiga teman magangnya di lobi perkantoran, kembali dipanggil oleh oknum Kadis.
“Saya di panggil oleh bapak, (oknum kadis ,Red) bapak nyuruh saya ikut ke ruangannya, karna katanya, ada yang mau dibicarakan,” jelas korban dengan menggunakan bahas daerah, Senin (31/8/2026).
Tidak berpikir yang lain-lain, Korban kemudian mengikuti oknum Kadis tersebut menuju ruang kerjanya.
Sesampainya di ruangan, kata korban, oknum Kadis menyediakan kursi dan memintanya untuk duduk.
Sembari korban duduk, oknum Kadis kembali mengingatkan agar korban tidak berpacaran terlebih dahulu. Dalam kesempatan itu, korban menyebut dirinya kembali dipuji karena dianggap cantik.
Korban juga mengaku tangannya di dipegang. Oknum Kadis kemudian disebut mengatakan bahwa tangan korban terasa dingin.
Menurut korban, dalam kondisi tersebut itu membuat dirinya mulai merasa ketakutan dan cemas.
Tak hanya mengaku mendapatkan perlakuan yang membuatnya takut, korban juga menyebut dirinya mendapat ancaman agar tidak menceritakan kejadian tersebut kepada orang lain.
“Saya diancam, agar tidak cerita dengan orang lain, saya takut,” terang korban.
Korban juga mengungkapkan adanya ancaman berkaitan dengan nilai dan kelulusannya dari kegiatan magang apabila kejadian tersebut diceritakan kepada orang lain.
“Kalau sampai saya ceritakan ke orang lain, maka nilai saya tidak di kasih, dan saya tidak akan diberikan kelulusan,” ungkap korban ke awak media.
Korban melanjutkan, oknum Kadis kembali mengatakan bahwa dirinya memiliki paras yang cantik. Korban juga disebut diingatkan agar fokus bersekolah terlebih dahulu hingga nantinya dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah.
Selain itu, korban mengaku oknum Kadis juga sempat memberikan peluang kerja di dinas tersebut apabila kelak dirinya telah menyelesaikan pendidikan.
Namun, korban mengatakan bahwa dirinya saat itu berada dalam kondisi begitu sangat ketakutan.
“Saat itu saya sangat takut, dan cemas,” jelas korban.
Keterangan korban berlanjut pada momen ketika dirinya disebut diminta berdiri tepat di depan cermin.
Kata korban, oknum Kadis kembali memberikan pujian terkait postur badan tinggi korban, dan lalu kemudian meminta agar dirinya melihat tubuhnya yang berdiri di depan cermin.
“Saya disuruh berdiri di dekat cermin, dan dia juga ngomong kalau badan saya lebih tinggi dari badan nya, dan dia juga ngomong dengan badan saya tinggi, siapa tau kelak bisa jadi polwan,” ungkap korban kepada awak media.
Menurut keterangan korban, saat dirinya berada dalam posisi berdiri tersebutlah, oknum Kadis kemudian diduga tiba-tiba memeluk pinggul korban dari arah belakang.
Spontan, korban mengaku langsung melepaskan diri dan berlari menuju pintu keluar ruangan.
“Saya di peluk dari belakang, dan saya langsung lari keluar ketakutan dan cemas,” ungkap korban.
Korban menyebut saat kejadian berlangsung pintu ruangan dalam keadaan tertutup, namun tidak rapat.
Usai kejadian, korban mengaku langsung menceritakan apa yang dialaminya kepada teman magangnya.
Selain itu, korban juga menyebut dirinya menceritakan kejadian tersebut kepada salah satu pegawai yang bekerja di kantor tempatnya magang itu.
Sepulangnya dari magang, peristiwa yang dialaminya tersebut itu, kemudian diceritakan korban langsung ke orangtuanya.
Bahkan, berdasarkan keterangan korban yang didampingi ibunya saat dikonfirmasi awak media, oknum Kadis tersebut juga sempat meminta kepada pihak keluarga agar persoalan tersebut tidak diceritakan kepada siapapun.
Sebelumnya, orang tua korban menjelaskan bahwa saat oknum kepala dinas tersebut datang ke kediaman korban, yang bersangkutan sempat tidak mengakui perbuatan yang diduga telah dilakukannya terhadap korban.
Dalam situasi yang masih berlangsung tegang tersebut, oknum kepala dinas itu diketahui datang ke rumah korban dengan didampingi empat orang rekannya. Kedatangannya disebut untuk menemui keluarga korban dan membahas persoalan yang terjadi.
Namun, meski sebelumnya sempat tidak mengakui perbuatannya, dalam pertemuan tersebut oknum kepala dinas itu kemudian akhirnya memohon maaf kepada keluarga korban dan mengakui bahwa dirinya telah khilaf dan sudah melakukan dugaan perbuatan tidak senonoh kepada korban.
Bahkan, menurut penjelasan keluarga korban, dalam pertemuan tersebut oknum kepala dinas itu menyampaikan pernyataan bahwa dirinya siap diapakan saja atas persoalan dan perbuatan yang terjadi.
Dugaan peristiwa tersebut kemudian turut sampai ke pihak pemerintahan desa tempat korban berdomisili.
Saat dikonfirmasi, Kades setempat membenarkan bahwa pihak keluarga korban datang dan melaporkan persoalan tersebut kepada pihak desa.
“Memang ada warga desa saya yang datang melaporkan persoalan ini kepada pihak desa. Saat datang, orang tua korban dalam kondisi menangis dan meminta pertolongan agar anaknya bisa dicarikan tempat magang lain. Ketika orang tua korban bersama korban menemui saya, mereka kemudian menjelaskan alasan anaknya ingin pindah tempat magang,” ujar Kades.
Dari hasil keterangan itulah, kades mengatakan, pihak desa kemudian menanyakan langsung kepada korban mengenai kejadian yang dialaminya itu.
“Setelah kita dengar semua cerita dari orangtuanya, kita tanya lagi ke korban, dan korban sudah menceritakan semuanya dengan pihak desa, apa yang sudah dilakukan oleh oknum kadis ini, ” tambahnya.
Tak berselang lama setelah kejadian, berdasarkan informasi yang dihimpun, oknum Kadis bersama sejumlah orang yang disebut berjumlah sekitar empat orang yang diketahui merupakan sejumlah Oknum Kepala Sekolah, sempat mendatangi sebuah rumah yang diduga berkaitan dengan keluarga korban.
Namun, dalam kedatangan tersebut terjadi kekeliruan. Oknum Kadis beserta teman-temannya dan ada juga warga desa setempat disebut salah masuk rumah.
Rumah yang didatangi oknum Kadis tersebut ternyata bukan kediaman korban maupun keluarga korban, melainkan rumah orang tua dari salah satu teman magang korban. Kondisi tersebut sempat membuat pemilik rumah kebingungan dan menimbulkan sedikit keramaian.
Dalam pertemuan itu, oknum Kadis tersebut diketahui sempat mengakui perbuatannya dan menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang disebut terjadi di lingkungan dinas tersebut.
Namun, situasi justru menjadi lucu dan ironis. Setelah menyampaikan pengakuan dan permohonan maaf, oknum Kadis tersebut baru mengetahui bahwa rumah yang didatanginya itu bukanlah kediaman keluarga korban, melainkan rumah orang tua salah satu teman magang korban.
Peristiwa tersebut terjadi di tengah mencuatnya persoalan dugaan perbuatan tidak senonoh yang disebut sempat menghebohkan masyarakat Kabupaten Lebong.
Atas kejadian tersebut, dan sempat menghebohkan masyarakat Kabupaten Lebong, pihak terduga pelaku diduga berupaya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut secara diam-diam. Adanya keterlibatan sejumlah pihak yang diduga berupaya untuk mengaburkan dugaan pelecehan dan perbuatan tidak senonoh terhadap siswi salah satu sekolah yang sedang magang di salah satu dinas tersebut.
Dalam Informasi yang berhasil dikumpulkan oleh awak media, terkait muncul informasi mengenai adanya pemberian uang sebesar Rp20 juta kepada pihak korban. Terkait Informasi tersebut, memang dibenarkan oleh orang tua korban.
Selain itu juga, dari informasi yang dihimpun, bahwa adanya surat damai dan upaya pemberian uang dari pihak terduga pelaku ke pihak korban dan keluarga korban.
Persoalan kemudian semakin menarik perhatian setelah muncul surat perjanjian yang disebut dibuat oleh pihak terduga pelaku dan diantarkan kepada keluarga korban.
Surat tersebut diketahui dibawa oleh dua orang. Berdasarkan pengakuan keluarga korban dan korban, salah satunya disebut merupakan keluarga dari oknum Kadis tersebut.
Menariknya, dalam surat tersebut tercantum nama orang tua korban sebagai salah satu saksi dan dibubuhi tanda tangan dan materai.
Namun, ada yang janggal dalam surat perjanjian tersebut, Sebab, tanda tangan orang tua korban, khususnya bapak korban, disebut bukan ditandatangani oleh yang bersangkutan.
Melainkan, korban mengakui jika dirinya disuruh menandatangani atas nama orang tuanya oleh pihak terduga pelaku. Padahal, dalam isi surat perjanjian tersebut, orang tua korban juga tercantum sebagai salah satu saksi.
Surat perjanjian itu diketahui dibuat pada Jumat (28/8/2026), sehari setelah kejadian dugaan perbuatan yang tidak pantas dan senonoh yang dialami oleh siswi magang di salah satu dinas.
Saat surat tersebut diantarkan ke kediaman keluarga korban, orang tua korban disebut sedang tidak berada di rumah. Saat itu hanya terdapat korban bersama neneknya.
Korban kemudian disebut diminta menandatangani surat perjanjian yang telah dikonsepkan oleh pihak-pihak terkait yang diduga ikut berupaya untuk meredam agar permasalahan ini tidak mencuat.
Dalam situasi itu juga, diketahui jika korban menandatangani surat tersebut dalam keadaan tidak didampingi oleh kedua orang tuanya.
“Saya tanda tangan, karena saya disuruh,” jelas Korban.
Rangkaian kejadian tersebut kini menjadi perhatian, terlebih karena menyangkut dugaan perlakuan tidak senonoh terhadap seorang siswi yang sedang menjalani kegiatan magang.
Sementara itu, untuk mendapatkan keberimbangan pemberitaan, awak media telah berupaya mengonfirmasi pihak oknum Kadis yang disebut dalam keterangan korban.
Namun, saat dihubungi melalui pesan WhatsApp pada Selasa (1/9/2026) sekitar pukul 12.09 WIB, hingga berita ini diterbitkan belum ada balasan dari oknum Kadis yang bersangkutan. (FR)












