Seni berkata Kata Dalam Budaya Minangkabau memiliki bentuk yang sangat khas

Rafhel setya pratama Universitas Andalas Sastra Minangkabau

Editorial, Sentralnews.com – Seni berkata-kata dalam budaya Minangkabau memiliki bentuk yang sangat khas dan berperan penting sebagai media komunikasi serta pendidikan. Tiga bentuk seni tutur yang menonjol adalah Pasambahan, Indang, dan Salawat Dulang. Ketiganya bukan sekadar hiburan, melainkan sarana pengajaran nilai-nilai sosial, moral, dan agama yang diwariskan secara turun-temurun.

Pasambahan: Ungkapan Kehormatan dan Penghormatan

Pasambahan adalah seni tutur berupa ucapan atau pidato adat yang disampaikan dalam berbagai acara resmi seperti penyambutan tamu, pernikahan, atau upacara adat. Pasambahan menggunakan bahasa yang penuh dengan kiasan, metafora, dan tata bahasa yang teratur, sehingga menjadi bentuk komunikasi yang halus dan penuh penghormatan. Melalui pasambahan, nilai-nilai seperti rasa hormat, kebersamaan, dan tata krama diajarkan secara lisan kepada masyarakat. Pasambahan juga berfungsi sebagai media pendidikan adat yang menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga keharmonisan sosial dan penghormatan terhadap orang lain.

Indang: Seni Musik dan Syair yang Menguatkan Identitas Kolektif
Indang adalah bentuk seni musik dan syair yang biasanya dibawakan secara kelompok dengan irama yang dinamis dan penuh semangat. Indang berakar dari tradisi keagamaan Islam dan sering dipertunjukkan dalam acara keagamaan maupun sosial. Melalui Indang, pesan-pesan moral dan ajaran agama disampaikan dengan cara yang menarik dan mudah diterima oleh masyarakat luas. Seni ini memperkuat ikatan sosial dan identitas kolektif masyarakat Minangkabau, sekaligus menjadi media edukasi yang menggabungkan unsur hiburan dan pengajaran nilai-nilai keagamaan.

Salawat Dulang: Tradisi Lisan Islami sebagai Sarana Dakwah dan Hiburan
Salawat Dulang adalah seni sastra lisan yang sangat khas dan kaya nilai spiritual dalam masyarakat Minangkabau. Tradisi ini melibatkan dua kelompok penyanyi laki-laki yang secara bergantian melantunkan syair-syair Islami sambil menabuh dulang (nampan besar) sebagai pengiring. Salawat Dulang berkembang sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, dipengaruhi oleh penyebaran Islam melalui ulama seperti Syekh Burhanuddin dari Ulakan yang membawa ajaran tarekat Syatariah ke Minangkabau.

Awalnya, Salawat Dulang berfungsi sebagai sarana dakwah yang disajikan dalam perayaan hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Isra Mi’raj, Idul Fitri, dan Idul Adha. Syair yang dilantunkan berisi ajaran agama, pesan rohani, dan hukum Islam yang disampaikan dengan irama khas yang menggabungkan musik dan sastra lisan. Pertunjukan Salawat Dulang berlangsung lama, biasanya dari malam hingga dini hari, dan melibatkan interaksi antara dua kelompok penyanyi yang saling bersahutan.

Seiring waktu, Salawat Dulang mengalami perkembangan fungsi dan bentuk. Kini, selain sebagai media dakwah, pertunjukan ini juga menjadi hiburan yang digemari masyarakat, dengan penyesuaian isi syair agar lebih variatif dan menarik bagi generasi muda, termasuk memasukkan unsur lagu populer tanpa menghilangkan nilai religiusnya. Tradisi ini tetap dilestarikan di berbagai daerah di Sumatera Barat dan menjadi bagian penting dari identitas budaya Minangkabau.

Selain hiburan, Salawat Dulang juga berperan dalam pendidikan keagamaan secara informal, terutama pada masa sebelum pendidikan Islam formal tersebar luas. Syair yang dihafal dan diwariskan secara turun-temurun mengandung nilai-nilai tasawuf dan ajaran Islam yang mendalam, menjadikan pertunjukan ini sebagai media dakwah kultural yang efektif dan dinamis.

Kesimpulan
Ketiga seni tutur ini—Pasambahan, Indang, dan Salawat Dulang—merupakan media komunikasi dan pendidikan yang sangat efektif dalam masyarakat Minangkabau. Mereka menggabungkan unsur estetika, moral, sosial, dan keagamaan dalam bentuk yang mudah diterima dan diwariskan secara lisan. Keunikan dan kekayaan seni ini memperlihatkan bagaimana budaya Minangkabau memadukan tradisi dengan nilai-nilai spiritual dan sosial, sekaligus menjaga kelestarian warisan budaya yang hidup dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Informasi ini disusun berdasarkan kajian dan sumber terpercaya yang mendokumentasikan tradisi Salawat Dulang dan seni tutur Minangkabau lainnya sebagai warisan budaya yang terus berkembang dan berperan penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.