DAERAHLAMPUNGNEWS

BENGKULU KAYA AIR, TAPI MENGAPA KITA MASIH TAKUT KEKERINGAN? 

×

BENGKULU KAYA AIR, TAPI MENGAPA KITA MASIH TAKUT KEKERINGAN? 

Share this article

Bengkulu bukan daerah yang miskin air.

Hujan relatif sering turun. Sungai tersedia. Kawasan hutan masih menjadi bagian penting dari bentang alam. Daerah pegunungan dan kawasan tangkapan air juga menjadi modal alami bagi keberlanjutan sumber daya air.

Namun ketika musim kering datang, pertanyaan tentang ketersediaan air kembali muncul.

Masyarakat mulai khawatir terhadap sumur yang menurun, debit sungai yang berkurang, kebutuhan air pertanian dan ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Jika Bengkulu memiliki air yang relatif melimpah, mengapa ketahanan air masih menjadi persoalan?

Persoalannya mungkin bukan semata-mata jumlah air.

Persoalannya adalah bagaimana air tersebut dikelola.

Air Banyak Belum Tentu Air Aman

Ketersediaan air tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak hujan yang turun.

Yang tidak kalah penting adalah kapan hujan turun, seberapa deras, berapa lama berlangsung, dan berapa banyak air yang berhasil disimpan oleh lingkungan.

Hujan deras dalam waktu singkat dapat menghasilkan limpasan dalam jumlah besar.

Air kemudian mengalir ke sungai dan akhirnya menuju laut.

Jika kemampuan kawasan untuk menyerap dan menyimpan air semakin berkurang, maka air yang tersedia setelah hujan juga semakin sedikit.

Akibatnya, kita bisa mengalami kondisi yang tampak bertolak belakang.

Saat hujan, air terlalu banyak.

Saat kemarau, air terasa kurang.

Ini bukan sekadar persoalan cuaca.

Ini adalah persoalan tata kelola air.

Jangan Hanya Bertanya “Berapa Banyak Hujan?”

Dalam perencanaan sumber daya air, jumlah curah hujan memang penting.

Tetapi pertanyaan berikutnya jauh lebih penting:

Berapa banyak air yang masuk ke tanah?

Berapa banyak yang tersimpan?

Berapa banyak yang menjadi limpasan?

Berapa banyak yang digunakan manusia?

Dan berapa banyak yang masih tersedia ketika hujan berhenti?

Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak menjadi bagian dari perencanaan, kita hanya mengetahui berapa banyak air yang turun, tetapi tidak mengetahui berapa banyak yang benar-benar menjadi cadangan.

Hutan dan Hulu Adalah Infrastruktur

Sering kali pembangunan infrastruktur air identik dengan bendungan, embung, jaringan pipa atau instalasi pengolahan.

Semua itu memang penting.

Namun ada satu infrastruktur yang sering tidak dihitung secara memadai: ekosistem.

Kawasan hutan, daerah tangkapan dan vegetasi memiliki fungsi dalam mengatur perjalanan air.

Ketika hujan turun, kawasan tersebut membantu memperlambat limpasan dan memberi kesempatan bagi air untuk masuk ke dalam tanah.

Air yang tersimpan kemudian dapat berkontribusi terhadap keberlanjutan aliran sungai dan sumber air.

Karena itu, menjaga kawasan hulu sebenarnya merupakan bagian dari investasi infrastruktur air.

Jika hulu rusak, biaya yang harus dibayar masyarakat dapat muncul dalam berbagai bentuk: banjir, sedimentasi, penurunan kualitas air hingga berkurangnya cadangan ketika kemarau.

Jangan Semua Air Hujan Diperlakukan sebagai Masalah

Ketika hujan deras, kita tentu perlu mengendalikan banjir.

Namun pendekatan yang hanya berorientasi pada membuang air secepat mungkin perlu dipikirkan kembali.

Tidak semua air hujan harus segera meninggalkan kawasan.

Sebagian dapat ditahan.

Sebagian dapat diarahkan ke kawasan resapan.

Sebagian dapat disimpan dalam tampungan.

Sebagian dapat dipanen untuk kebutuhan tertentu.

Dengan demikian, air hujan tidak hanya menjadi sesuatu yang harus disingkirkan, tetapi menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan.

Prinsipnya sederhana:

ketika air berlebih, simpan sebagian; ketika air berkurang, gunakan cadangan tersebut.

Pembangunan Bengkulu Harus Menghitung Perjalanan Air

Pertumbuhan kawasan perkotaan dan pembangunan infrastruktur tentu diperlukan.

Namun pembangunan juga mengubah kondisi permukaan tanah.

Lahan terbuka yang berubah menjadi bangunan, jalan dan permukaan kedap air membuat air hujan lebih sulit meresap.

Akibatnya, limpasan meningkat.

Karena itu, setiap pembangunan seharusnya tidak hanya dihitung dari sisi ekonomi dan tata ruang.

Aspek hidrologi harus ikut diperhitungkan.

Sederhananya, setiap pembangunan harus mampu menjawab:

Ke mana air hujan akan pergi setelah kawasan ini dibangun?

Jika pertanyaan tersebut tidak dijawab sejak awal, persoalan air hanya akan dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain.

Petani Tidak Boleh Menjadi Korban Ketidakpastian Air

Sektor pertanian merupakan salah satu kelompok yang paling sensitif terhadap perubahan ketersediaan air.

Ketika musim berubah dan periode kering menjadi lebih panjang, petani harus menghadapi ketidakpastian waktu tanam dan kebutuhan air.

Solusinya tidak cukup dengan meminta petani “bersiap menghadapi kemarau”.

Mereka membutuhkan informasi.

Informasi iklim harus diterjemahkan menjadi keputusan praktis.

Kapan waktu tanam yang lebih aman?

Berapa kebutuhan air?

Bagaimana mengatur irigasi?

Apakah perlu mengubah pola tanam?

Apakah terdapat sumber air alternatif?

Pemerintah dan lembaga terkait perlu memastikan informasi tersebut benar-benar sampai kepada petani.

Pemerintah Perlu Beralih dari Reaktif Menjadi Preventif

Ketika masyarakat sudah kesulitan mendapatkan air, pemerintah tentu harus hadir.

Distribusi air bersih, bantuan dan sumber air alternatif merupakan tindakan yang diperlukan dalam kondisi darurat.

Namun pemerintah tidak boleh berhenti di sana.

Yang lebih penting adalah mencegah agar kondisi darurat tidak berulang dengan pola yang sama.

Pemerintah daerah perlu memiliki sistem pemantauan sumber daya air.

Curah hujan perlu dipantau.

Debit sungai perlu diperhatikan.

Kondisi sumber air masyarakat perlu diketahui.

Wilayah rawan kekeringan perlu dipetakan.

Kapasitas tampungan perlu dihitung.

Dengan data tersebut, kebijakan dapat dilakukan lebih awal.

Krisis air seharusnya bisa diprediksi sebelum masyarakat benar-benar kehabisan air.

Ketahanan Air Harus Masuk ke Perencanaan Daerah

Ketahanan air tidak seharusnya hanya menjadi urusan satu dinas.

Persoalan air berhubungan dengan lingkungan, pekerjaan umum, pertanian, tata ruang, kesehatan, pembangunan desa dan bahkan ekonomi.

Karena itu, diperlukan koordinasi lintas sektor.

Pembangunan jalan harus mempertimbangkan drainase.

Pembangunan permukiman harus mempertimbangkan resapan.

Kebijakan pertanian harus mempertimbangkan ketersediaan air.

Perlindungan hutan harus dilihat sebagai bagian dari perlindungan sumber air.

Dengan pendekatan tersebut, air tidak lagi menjadi isu sektoral.

Air menjadi bagian dari pembangunan daerah.

Masyarakat Juga Tidak Bisa Hanya Menunggu

Pemerintah memiliki tanggung jawab besar.

Namun masyarakat juga memiliki peran.

Menghemat air, memperbaiki kebocoran, menjaga mata air, tidak membuang sampah ke sungai, mempertahankan vegetasi dan memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan tertentu merupakan tindakan yang dapat dilakukan.

Di tingkat desa, masyarakat dapat ikut memetakan sumber air dan wilayah yang rentan mengalami kekurangan.

Di tingkat rumah tangga, penggunaan air dapat mulai diperhitungkan.

Kecil jika dilakukan satu orang.

Tetapi menjadi signifikan jika dilakukan satu desa, satu kecamatan, bahkan satu provinsi.

Bengkulu Perlu Mengubah Cara Berpikir

Selama ini kita sering berpikir bahwa persoalan air adalah bagaimana mendapatkan air.

Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah:

Bagaimana memastikan air yang tersedia hari ini tetap ada ketika kita membutuhkannya nanti?

Jawabannya tidak hanya pembangunan fisik.

Kita membutuhkan kombinasi antara perlindungan lingkungan, infrastruktur penyimpanan, efisiensi penggunaan, informasi iklim, tata ruang yang baik dan partisipasi masyarakat.

Bengkulu tidak harus menunggu mengalami krisis air untuk mulai membangun sistem tersebut.

Justru saat sumber air masih tersedia, saat hujan masih turun dan saat kawasan hulu masih dapat dijaga, itulah waktu terbaik untuk bertindak.

Jangan Tunggu Sumur Mengering

Kekeringan bukan sekadar persoalan kurangnya hujan.

Kekeringan menjadi krisis ketika sebuah wilayah tidak memiliki cukup kemampuan untuk menghadapi periode ketika air berkurang.

Karena itu, ketahanan air harus dibangun jauh sebelum krisis terjadi.

Hulu dijaga.

Daerah resapan dilindungi.

Air hujan disimpan.

Tampungan diperkuat.

Pertanian beradaptasi.

Penggunaan air dibuat efisien.

Dan pemerintah menggunakan data untuk mengambil keputusan lebih awal.

Bengkulu memiliki modal alam yang besar.

Tantangannya adalah memastikan modal tersebut tidak hilang karena kita terlambat mengelolanya.

Pada akhirnya, persoalan air bukan hanya tentang berapa banyak air yang dimiliki Bengkulu.

Persoalannya adalah seberapa baik Bengkulu menjaga air yang dimilikinya.

Sebab air yang hari ini mengalir begitu saja menuju laut mungkin merupakan air yang besok kita cari ketika kemarau datang.

Jangan tunggu air menjadi langka untuk mulai menghargai nilainya.

Artikel ini Ditulis Oleh: Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T.