BENGKULU, SentralNews.com — Potensi kopi Bengkulu untuk masuk ke pasar industri berskala nasional masih terbuka lebar. Salah satu peluang tersebut datang dari ekspansi Tomoro Coffee, jaringan kedai kopi yang kini telah memiliki lebih dari 650 gerai secara nasional.
Owner Tomoro Coffee Bengkulu, Arbi, mengatakan Bengkulu memiliki potensi besar untuk mengembangkan komoditas kopi, terutama jenis arabika. Sejumlah wilayah dataran tinggi di Bengkulu dinilai memiliki kondisi geografis yang mendukung pengembangan kopi berkualitas.
Menurut Arbi, kawasan Kepahiang, Rejang Lebong dan Lebong memiliki sejumlah wilayah yang berpotensi dikembangkan sebagai sentra arabika. Namun, pengembangan komoditas tersebut masih menghadapi tantangan, salah satunya keterbatasan lahan yang memenuhi persyaratan ketinggian.
“Potensi kita untuk arabika sebenarnya ada. Saya beberapa kali turun langsung melihat kondisi lahan dan memang ada peluang untuk dikembangkan,” ujar Arbi.
Di sisi lain, besarnya jaringan Tomoro Coffee membuka peluang tersendiri bagi daerah penghasil kopi seperti Bengkulu. Dengan ratusan gerai yang beroperasi, kebutuhan bahan baku kopi perusahaan tentu sangat besar dan berlangsung secara berkelanjutan.
Saat ini, pasokan kopi Tomoro Coffee berasal dari sejumlah sentra produksi di Indonesia, termasuk Aceh, Pulau Jawa dan Sulawesi.
Arbi menilai kondisi tersebut seharusnya menjadi peluang bagi petani kopi Bengkulu. Jika kualitas, konsistensi serta kapasitas produksi mampu memenuhi standar industri, kopi Bengkulu berpeluang mendapatkan tempat lebih besar dalam rantai pasok perusahaan kopi berskala nasional.
“Kalau kualitas dan kapasitas kita mampu memenuhi standar industri, peluang itu tentu terbuka,” ujarnya.
Tomoro Coffee sendiri mulai hadir di Bengkulu pada 2023. Saat ini, gerainya telah tersebar di sejumlah lokasi, antara lain kawasan Lingkar Barat, Jalan Jati, Jalan MT Haryono dan Curup. Sementara di Lubuklinggau terdapat satu gerai.
Selain memperkuat rantai pasok, Tomoro Coffee juga mulai melakukan pendekatan langsung dengan petani melalui berbagai program. Salah satunya melalui kegiatan yang melibatkan pelaku kopi berprestasi, termasuk Muhammad Aga, yang dikenal sebagai salah satu juara kompetisi kopi internasional.
Tomoro Coffee juga memiliki program Tomorfosis, yang diarahkan untuk mendekatkan perusahaan dengan petani sekaligus memahami kondisi dan kebutuhan mereka secara langsung. Program tersebut sebelumnya telah dilakukan di Bali.
Soal CSR, Masih Koordinasi dengan Pusat
Sementara terkait kontribusi melalui Corporate Social Responsibility (CSR) di Bengkulu, Arbi mengatakan hingga saat ini pihaknya masih akan melakukan koordinasi lebih lanjut dengan manajemen pusat.
Ia berharap ke depan terbuka ruang kolaborasi yang lebih besar antara perusahaan, pemerintah daerah dan petani kopi Bengkulu.
Menurutnya, kolaborasi tersebut penting agar potensi kopi Bengkulu tidak berhenti sebagai komoditas perkebunan, tetapi mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Bengkulu sendiri memiliki modal alam dan sumber daya manusia untuk menjadi salah satu daerah penghasil kopi berkualitas. Tantangannya kini adalah memastikan pengembangan dilakukan secara konsisten, terukur dan berkelanjutan.
Dengan kebutuhan bahan baku yang besar dan jaringan bisnis yang terus berkembang, Tomoro Coffee dapat menjadi salah satu pintu masuk bagi kopi Bengkulu untuk menembus rantai pasok industri kopi nasional.
Kini yang menjadi pekerjaan rumah adalah meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi petani agar kopi Bengkulu mampu memenuhi standar pasar dan menjadi bagian dari pertumbuhan industri kopi berskala besar.












