Lebong, Sentralnews.com – Banjir bandang tak hanya menyisakan lumpur dan kerusakan di Kabupaten Lebong. Di balik putusnya jembatan gantung dan ambruknya beronjong sungai, nasib para petani kini seperti digantung tanpa kepastian.
Sebanyak kurang lebih ada 11 jembatan gantung di sejumlah wilayah Kabupaten Lebong dilaporkan rusak, bahkan ada yang putus total diterjang derasnya arus sungai. Ironisnya, perbaikan belum juga bisa dilakukan dalam waktu dekat dikarenakan alasan soal keterbatasan anggaran daerah.
Akibat kondisi itu, warga di beberapa desa terancam harus mencari jalur alternatif, bahkan mau tidak mau harus menyeberangi sungai demi bisa sampai ke kebun dan sawah mereka.
Kerusakan terjadi di sejumlah titik, di antaranya Desa Talang Banut, Garut, Selebar Jaya, Pungguk Pedaro hingga Pelabuhan Talang Leak. Akses antar desa lumpuh, aktivitas pertanian terganggu, sementara warga hanya bisa menunggu kepastian.

Kepala Bidang Bina Marga PUPR-Hub Kabupaten Lebong, Bustari, mengakui total ada 11 jembatan gantung yang terdampak banjir bandang. Sebagian hanya mengalami kerusakan ringan, namun beberapa lainnya rusak berat dan praktis tidak lagi aman digunakan masyarakat.
“Ada yang masih bisa dilalui dengan risiko, tapi ada juga yang sudah tidak memungkinkan digunakan normal,” kata Bustari.
Meski kerusakan sudah terjadi dan dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat, pemerintah daerah memastikan perbaikan belum bisa ditangani melalui APBD Perubahan 2026. Alasannya, kebutuhan anggaran dinilai terlalu besar.

Artinya, masyarakat kemungkinan masih harus bersabar lebih lama. Sebab usulan pembangunan baru akan diajukan pada APBD murni tahun 2027.
“Kalau berharap dari APBD perubahan tentu tidak sanggup. Anggarannya cukup besar,” ujarnya lagi.
Pernyataan itu sontak memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat. Di saat akses utama warga terputus dan aktivitas ekonomi terganggu, pemerintah justru belum memiliki kekuatan fiskal untuk bergerak cepat.
Padahal, sejumlah jembatan tersebut merupakan akses vital masyarakat menuju lahan pertanian dan permukiman. Jika terus dibiarkan, dampaknya bukan hanya soal mobilitas warga, tetapi juga bisa memukul roda ekonomi masyarakat desa.
Sementara itu, Bupati Lebong, Azhari mengaku pemerintah daerah kini harus “berkeliling mencari bantuan” ke pusat demi menyelamatkan fasilitas publik yang rusak akibat bencana.
Ia menyebut dalam waktu dekat akan kembali melakukan perjalanan dinas menemui anggota Komisi V DPR RI, Erna Sari Dewi, guna memperjuangkan bantuan pembangunan jembatan gantung di Lebong.
“Kita terpaksa DL lagi karena jembatan gantung kita banyak yang rusak,” kata Azhari.
Tak hanya itu, Pemkab Lebong juga mulai melirik bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB untuk menutup keterbatasan keuangan daerah.
Namun hingga kini, masyarakat masih menunggu kepastian kapan jembatan-jembatan tersebut benar-benar diperbaiki. Sebab bagi warga desa, jembatan bukan sekadar fasilitas, melainkan urat nadi kehidupan mereka. (FR)




















