BENGKULU, SENTRALNEWS.COM — Kopi Bengkulu tidak lagi cukup hanya dikenal sebagai komoditas perkebunan. Di balik biji kopi yang keluar dari kebun, ada pekerjaan yang lebih besar: meningkatkan nilai tambah, menjaga mutu, memenuhi standar pasar global, dan memastikan pelaku usaha lokal mampu mengambil bagian lebih besar dari rantai perdagangan kopi.
Arah itu yang tengah didorong Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Bengkulu. Upaya tersebut tidak berhenti pada promosi produk, tetapi menyentuh ekosistem kopi dari hulu hingga pasar.

Salah satu langkahnya dilakukan melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia. BI Bengkulu menggelar pelatihan peracikan kopi atau barista yang melibatkan wartawan di Bengkulu. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari edukasi mengenai kopi sekaligus upaya memperkenalkan bagaimana komoditas lokal dapat memiliki nilai jual lebih tinggi ketika diolah dan disajikan dengan standar yang baik.
Bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), persoalannya memang bukan semata bagaimana menghasilkan kopi. Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengubah biji kopi menjadi produk bernilai tambah.
Kopi yang sebelumnya hanya dijual sebagai komoditas dapat memiliki nilai ekonomi berbeda ketika masuk ke tahap pengolahan, roasting, penyeduhan, pengemasan, hingga pemasaran dengan identitas produk yang kuat.
Di titik inilah peran BI menjadi lebih luas. Penguatan kapasitas pelaku usaha menjadi salah satu mata rantai agar UMKM kopi tidak terus berada di posisi paling rendah dalam rantai nilai.
Namun, jalan menuju pasar global memiliki persyaratan yang lebih ketat.
BI Bengkulu mengingatkan bahwa ekspor kopi membutuhkan pemenuhan standar, termasuk tuntutan mengenai ketertelusuran dan jaminan bahwa produk tidak berkaitan dengan deforestasi. Standar seperti ini menjadi bagian dari tantangan baru bagi komoditas kopi yang ingin masuk ke pasar internasional.
Artinya, kualitas kopi tidak lagi hanya ditentukan oleh rasa.
Asal-usul komoditas, proses produksi, pengelolaan kebun, hingga kepastian bahwa rantai pasok memenuhi persyaratan pasar menjadi semakin penting.
Persyaratan tersebut justru menjadi peluang untuk membenahi ekosistem kopi Bengkulu.
Sebab, ketika standar produksi dan ketertelusuran semakin baik, posisi kopi Bengkulu di pasar internasional juga memiliki dasar yang lebih kuat.
Salah satu bukti terbukanya peluang tersebut terlihat dari kopi Bengkulu yang telah menembus pasar Italia.
Masuknya kopi Bengkulu ke pasar Italia bukan sekadar cerita tentang pengiriman komoditas ke luar negeri. Lebih jauh, ekspor tersebut menunjukkan bahwa kopi dari daerah ini memiliki peluang untuk masuk ke rantai perdagangan global ketika kualitas, proses dan standar pasok dapat dipenuhi.
Bagi UMKM, pasar global seharusnya tidak berhenti sebagai tujuan ekspor. Nilai terbesar justru berada pada kemampuan menciptakan produk turunan dan merek sendiri.
Karena itu, penguatan ekosistem menjadi penting. Petani membutuhkan akses terhadap pengetahuan dan standar produksi. Pengolah membutuhkan keterampilan dan teknologi. UMKM membutuhkan penguatan merek, kemasan dan pemasaran. Sementara pasar ekspor membutuhkan konsistensi kualitas dan kepastian pasokan.
BI Bengkulu mencoba mempertemukan mata rantai tersebut.
Dari kebun hingga secangkir kopi, setiap tahapan memiliki nilai ekonomi yang dapat dikembangkan. Pelatihan barista menjadi salah satu contoh kecil dari upaya memperpanjang rantai nilai itu. Kopi tidak berhenti sebagai biji, tetapi diolah menjadi pengalaman dan produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Pada saat bersamaan, pengalaman menembus pasar Italia memperlihatkan bahwa kopi Bengkulu mempunyai ruang di pasar global—dengan catatan standar dan persyaratan ekspor dapat dipenuhi secara konsisten.
Bagi Bengkulu, tantangannya kini bukan lagi sekadar bagaimana menjual kopi.
Pertanyaannya adalah seberapa jauh daerah ini mampu membuat petani, UMKM, pengolah, roastery, kedai kopi, hingga eksportir mendapatkan manfaat dari pertumbuhan industri kopi.

Di sinilah agenda coffee Bengkulu naik kelas menemukan relevansinya.
BI tidak hanya mendorong kopi Bengkulu dikenal. Yang lebih penting, kopi lokal didorong memiliki nilai tambah, memenuhi standar, memiliki daya saing dan mampu bergerak dari komoditas menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Jika rantai tersebut terus diperkuat, secangkir kopi Bengkulu tidak hanya membawa cerita tentang daerah asalnya. Ia juga membawa nilai ekonomi dari petani, pelaku UMKM, pekerja pengolahan, hingga pelaku usaha yang mengantarkannya ke pasar dunia.
Penulis: Arwin Binardi












