DAERAHLEBONGNEWS

Setor Rp10 Juta ke Marno, Amirul Tak Dilantik Jadi Kepsek

×

Setor Rp10 Juta ke Marno, Amirul Tak Dilantik Jadi Kepsek

Share this article
Bukti tangkapan layar, yang diduga percakapan dan pengakuan dari Amirul Mukminin yang gagal dilantik jadi Kepsek

SENTRALNEWS.COM, LEBONG – Polemik dugaan setoran uang dalam proses pengangkatan kepala sekolah di Kabupaten Lebong kembali mengemuka. Kali ini, pengakuan Amirul membuka cerita mengenai adanya permintaan uang Rp20 juta, yang disebut berkaitan dengan upaya untuk menjadi kepala sekolah.

Ironisnya, meski mengaku telah menyerahkan Rp10 juta, Amirul tetap tidak masuk dalam jajaran kepala sekolah definitif yang dilantik pada Februari 2026.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan: ke mana aliran uang tersebut dan apa kaitannya dengan proses pengangkatan kepala sekolah?

Amirul mengaku awalnya diminta menyediakan uang sebesar Rp20 juta. Namun, lantaran tidak memiliki uang sebanyak itu, ia hanya mampu menyerahkan Rp10 juta.

“Saya ini dulu kepala sekolah di salah satu SD, tapi sewaktu mendekati mutasi kepala sekolah saya justru dimintai uang sebesar Rp20 juta agar tetap menjabat sebagai kepala sekolah SD yang sebelumnya saya pimpin,” ujar Amirul, Jumat (11/9/2026).

Menurut Amirul, permintaan tersebut terjadi saat dirinya berada di kediaman Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebong, Fahrurrozi, di Desa Taba Baru II, Kecamatan Lebong Atas.

Amirul menyebut, ketika itu terdapat Eko Marno, Sirmanto, Suhadi dan Catur Sugito, Fakhrurrozi .

“Saat itu saya sedang di rumah Fahrurrozi (Kadis Dikbud-red). Di situlah Marno Areko meminta saya menyetorkan uang Rp20 juta jika saya masih ingin menjadi kepala sekolah. Saat itu di kediaman Fahrurrozi juga ada Sirmanto, Suhadi dan juga Catur,” kata Amirul.

Ia menyebut permintaan tersebut dikaitkan dengan sekolah yang sebelumnya dipimpinnya.

“Alasan permintaan uang sebesar Rp20 juta karena sekolah yang saya pimpin merupakan sekolah dengan murid terbanyak di Kabupaten Lebong,” ujarnya.

Karena tidak mampu memenuhi nominal yang disebut diminta, Amirul mengaku hanya menyerahkan Rp10 juta.

“Baru saya berikan Rp10 juta. Uang itu saya transfer ke rekening Marno sekitar akhir Desember 2025,” ungkapnya.

Pengakuan mengenai uang tersebut juga muncul dalam percakapan WhatsApp yang beredar.

Dalam percakapan itu, Amirul mengaku hanya mampu menyiapkan Rp10 juta dari permintaan Rp20 juta.

“Waktu itu saya diminta Rp.20 juta. Saya pikir kalau Rp.20 juta dari mana saya ambil uang sebanyak itu. Tapi kalau hanya Rp.10 juta waktu itu saya ada,” kata Amirul dalam percakapan WhatsApp tersebut.

Amirul kemudian menyebut uang Rp10 juta tersebut ditransfer kepada Eko Marno.

“Uang Rp10 juta itu saya transfer ke Eko marno” ujarnya.

Namun, persoalan tidak berhenti pada nominal Rp10 juta.

Sebab, Amirul diketahui merupakan salah satu calon kepala sekolah yang batal dilantik sebagai kepala sekolah definitif pada Februari 2026.

Belum diketahui secara pasti apakah batalnya pelantikan tersebut memiliki hubungan dengan tidak terpenuhinya nominal Rp20 juta yang sebelumnya disebut diminta kepadanya.

Demikian pula dengan tujuan dan dasar permintaan uang tersebut, masih membutuhkan penjelasan dari pihak-pihak yang disebut dalam pengakuan Amirul.

Rangkaian pengakuan tersebut kini menjadi bagian penting untuk ditelusuri, terutama terkait siapa yang meminta, siapa yang menerima, untuk kepentingan apa uang tersebut diberikan, lalu kemana uang yang terkumpul tersebut bermuara.

Publik pun menunggu penjelasan terbuka dari pihak-pihak yang disebut ikut terseret dalam isu dugaan pelantikan kepsek, sekaligus langkah aparat berwenang untuk memastikan apakah dugaan tersebut memiliki dasar atau justru terdapat penjelasan lain di balik batalnya pelantikan Amirul.Kalau ingin lebih pedas lagi, angle berikutnya bisa dibuat. (FR)