Batam, Sentralnews.com – Bukan sekali dua kali, warga Perumahan Bumi Kencana yang beralamat di Kelurahan Buliang, Kecamatan Batu Aji, harus merasakan siksaan pelayanan air bersih: air mati total dari pagi hingga menjelang malam hari. Baru sekitar pukul 23.00 WIB dini hari hingga pukul 03.00 WIB air mengalir, itupun dengan warna cokelat keruh dan bercampur butiran karat. Parahnya, setelah 2 tahun bersurat, tak ada perubahan. Bahkan warga dilarang memakai sanyo sendiri!
Warga RW 28 Kelurahan Buliang geram. Air yang diklaim “air bersih” dari BP Batam itu faktanya sering mati di siang dan sore hari kadang sejak pukul 08.00 pagi tak setetes pun keluar. Ketika hidup di tengah malam, warnanya seperti air bekas cucian kerikil.
“Kadang ada butiran hitam. Rasanya enggak tega kalau lihat anak mandi dan sikat gigi pakai air begini,” keluh seorang warga.
Fakta lebih mengejutkan datang dari warga Perumahan Mutiara Indah, Gurindam Raya, Maitri Indah, hingga Bumi Agung. Mereka semua satu suara: hampir seluruh Kecamatan Batu Aji merasakan air kerupad (keruh, berlumpur, dan bercampur karat).
Puncak keprihatinan terjadi ketika surat pengaduan bernomor No.16/BM-RW28/RT01-05/X/2024 yang sudah dikirim ke Direktur Badan Usaha SPAM BP Batam dan ditembuskan ke Ombudsman RI Perwakilan Kepri, seolah-olah ditelan bumi.
“Tak ada perubahan. Air tetap sering mati dari pagi sampai malam, dan kalau keluar pun keruh. Saban hari kami menggunakan air yang diragukan kelayakannya,” sesal seorang warga Kelurahan Buliang.
Bahkan saat reses DPRD Batam April 2026 lalu, aspirasi ini kembali diulang. Seorang warga RW 24 berteriak lantang di depan dewan. “Pak Dewan, tolong sampaikan! Air kami sering mati seharian dan penuh lumpur. Ini enggak layak!”
Luka hati warga bertambah ketika mereka mendapat solusi instan, pakai sanyo untuk menyedot sendiri air tanah. Tahu apa jawab BP Batam melalui manajemen Air Bersih Hilir (ABH) ? DILARANG!
Alasannya, melanggar peraturan BP Batam.
Air keruh dan berkarat dibiarkan bertahun-tahun, air mati dari pagi hingga malam hari tidak pernah diselesaikan, tapi ketika warga berusaha menolong diri sendiri, larangan justru keluar.
“Kami hanya minta diperlakukan sama seperti perumahan lain. Apa terlalu berat?” tanya S, warga Bumi Kencana, Kelurahan Buliang, dengan nada putus asa.
Redaksi sentralnews.com mencoba mengonfirmasi ke Fuji, selaku manajemen ABH mengarahkan untuk menghubungi humas ABH yakni Ginda.
“Izin ketua, Silahkan ke Humas Kami pak Ginda” jawabnya merespon konfirmasi pesan WhatsAppnya.
Hingga berita ini naik, pihak BP Batam dan ABH belum berhasil dimintai keterangannya.
Akankah warga Kelurahan Buliang, Batu Aji, terus menggunakan air karat dan menahan haus di siang bolong? Atau harus berteriak lebih keras lagi?
Editor: Tim Redaksi




















