Lebong, Sentralnews.com – Aksi gotong royong dilakukan masyarakat bersama personel TNI dan Polri dengan menimbun ruas jalan rusak di jalur Lebong–Curup, tepatnya di dekat Jembatan Bioa Puak, Kecamatan Lebong Selatan, Kabupaten Lebong, Jumat (22/5/2026).
Kegiatan penimbunan dimulai sejak pukul 08.00 WIB dan hingga pukul 09.42 WIB masih terus berlangsung. Proses perbaikan dilakukan secara manual menggunakan cangkul dan sekop, sehingga pengerjaan membutuhkan waktu cukup lama.
Kapolsek Lebong Selatan, Nurmansyah mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap kondisi jalan yang dinilai membahayakan pengendara.
“Ini kegiatan swadaya masyarakat bersama TNI dan Polri,” ujar Nurmansyah.
Ia menjelaskan, aksi sosial tersebut dilakukan sebagai upaya sementara untuk mengurangi risiko kecelakaan akibat kerusakan jalan yang cukup parah di jalur penghubung Lebong–Curup.
“Harapannya, setelah ditimbun angka kecelakaan bisa ditekan,” tambahnya.
Kapolsek juga mengimbau para pengendara agar tetap berhati-hati saat melintas di ruas jalan tersebut, karena masih terdapat sejumlah titik jalan rusak lainnya yang belum diperbaiki.
“Kami mengingatkan pengendara untuk tetap waspada saat melintas,” pungkasnya.
Sementara itu, salah seorang warga yang ikut dalam kegiatan penimbunan, Jundi, berharap pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi dapat segera memberikan perhatian serius terhadap kondisi jalan tersebut dengan melakukan perbaikan permanen.
“Kami berharap pemerintah segera turun tangan dan melakukan perbaikan permanen terhadap jalan yang rusak parah ini,” ungkap Jundi.
Hal senada juga disampaikan salah satu sopir angkutan, Heriyandi Saputra, yang hampir setiap hari melintasi jalur tersebut. Ia menilai kondisi jalan sangat membahayakan dan menyulitkan para pengendara, terutama kendaraan yang membawa barang muatan.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat, TNI dan Polri yang sudah swadaya memperbaiki jalan ini,” ujarnya.
Menurut Heriyandi, kerusakan jalan membuat para sopir merasa waswas, terlebih saat membawa barang pecah belah maupun furniture yang rentan rusak selama perjalanan.
“Kami yang hampir setiap hari lewat di sini sangat khawatir. Barang yang kami angkut sering kali mudah pecah, jadi kondisi jalan ini memang sangat berisiko dan berbahaya bagi pengendara,” tutupnya. (FR)



















